Pengaruh Konsumsi Rumah Tangga Dan Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Propinsi Sulawesi Selatan Periode 1996-2008 (224)

Pembangunan ekonomi merupakan suatu usaha untuk meningkatkan produktifitas dari pemanfaatan sumberdaya potensial yang dimiliki oleh suatu wilayah atau suatu negara. Sumberdaya potensial dimaksud adalah sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya financial. Peningkatan produktifitas mengandung makna bahwa pemanfaatan sumberdaya tersebut secara ekonomis dapat diproduksi dengan hasil yang optimal dari kapasitas sumberdaya yang digunakan. Upaya seperti ini merupakan sebuah proses pembangunan ekonomi yang bertujuan untuk melakukan perubahan tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih baik dari keadaan sebelumnya.
Pada kenyataannya, proses pembangunan ekonomi tidaklah sederhana, namun pada pelaksanaannya sangat kompleks, karena bersifat multidimensi. Antara lain kompleksitas tersebut adalah pembangunan ekonomi tidak hanya melakukan bagaimana meningkatkan produktifitas melalaui proses produksi yang secara klasik ditentukan oleh faktor input seperti modal, tenaga kerja, teknologi, dan bahan baku, tetapi juga menyangkut aspek tempat dimana aktifitas tersebut berlangsung, aspek sosial yang mempengaruhi perilaku masyarakat baik pada proses produksi maupun pada perilaku konsumsi. Untuk tujuan tersebut maka diperlukan perencanaan ekonomi yang bersifat komprehensif dan integratif antara pembangunan ekonomi pada satu sisi dan pembangunan sosial pada sisi yang lain

Pada pembangunan ekonomi, ada tiga indikator makro yang  dijadikan sebagai ukuran kemajuan pembangunan. Indikator tersebut adalah tingkat pertumbuhan (growth rate), tingkat penciptaan kesempatan kerja (employment) dan kestabilan harga (price stability), Mankiw, 2006. Dengan demikian maka, setiap negara khususnya Negara-negara berkembang, dengan berbagai kebijakan seperti kebijakan fiskal, kebijakan moneter, dan kebijakan perdagangan baik perdagangan domestik maupun perdagangan internasional dilakukan untuk mendorong pertumbuhan yang direncanakan, menciptakan lapangan kerja, dan menjaga kestabilan harga.
Berbagai studi telah dilakukan mengapa perekonomian suatu negara mengalami pertumbuhan, baik pertumbuhan positif maupun pertumbuhan negatif. Teori ekonomi klasik menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh faktor-faktor produksi seperti modal, tenaga kerja, dan teknologi. Jadi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi maka diperlukan  peningkatan pemanfaatan faktor-faktor tersebut. Atau lebih spesifik lagi, dapat diuraikan dalam pertanyaan berapa tingkat pertumbuhan modal, tingkat pertumbuhan kesempatan kerja, serta peningkatan teknologi yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat pertumbuhan produksi tertentu. Dengan demikian maka pertumbuhan ekonomi dapat diukur dengan pertumbuhan produksi nasional atau pendapatan nasional.
Pada sisi lain, teori Keynesian menyatakan bahwa pertumbuhan pendapatan nasional ditentukan oleh besarnya  pengeluaran konsumsi, pengeluaran pemerintah, investasi dan net ekspor. Jadi menurut Keynes untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang diukur pada peningkatan pendapatan nasional maka diperlukan peningkatan permintaan konsumsi, permintaan pengeluaran pemerintah, permintaan investasi, serta permintaan ekspor dan impor. Implementasi kedua konsep dan teori tersebut (klasik dan Keynesian) dapat digunakan untuk menghitung pertumbuhan ekonomi baik pada skala nasional maupun pada skala perekonomian makro daerah (propinsi, kabupaten/kota).
 Pada skala perekonomian makro daerah, pertumbuhan ekonomi diukur melalui pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB). Berdasar pada pendekatan Keynes tersebut bahwa pertumbuhan pendapatan ditentukan oleh peningkatan permintaan pengeluaran faktor-faktor penentunya yaitu konsumsi, pengeluaran pemerintah, investasi dan ekspor dan impor. Hubungan antara pengeluaran konsumsi, pengeluaran pemerintahan terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi menarik untuk dikaji ketika hasil kajian Solow mengatakan bahwa investasi bukanlah satu-satunya kunci penentu pertumbuhan ekonomi, Easterly 2002.
Data pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia pada masa krisis 1998-2000 mengungkapkan bahwa terjadi penurunan tingkat  investasi dalam negeri, dan tingkat ekspor yang rendah namun disisi lain tercapai pertumbuhan ekonomi sekalipun dalam tingkat pertumbuhan yang rendah.
Fakta tersebut juga mengungkapkan bahwa pertumbuhan perekonomian makro, tidak serta merta berimplikasi langsung pada kondisi ekonomi mikro. Hal ini dapat dijelaskan melalui perilaku konsumsi masyarakat. Kondisi perekonomian pada tahun 1997-2000 terjadi krisis, namun terdapat peningkatan pengeluaran masyarakat. Fakta lain adalah peningkatan pengeluaran pemerintah untuk peningkatan kapasitas sumberdaya manusia dan pembangunan infrastruktur dasar telah menjadi pemicu peningkatan pertumbuhan perekonomian daerah dan nasional. Hubungan ini dapat dilihat juga pada hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ram (1986), dan Grossman (1988), mengungkapkan bahwa terjadi hubungan positif antara peningkatan pengeluaran pemerintah dengan pertumbuhan ekonomi dengan mengabaikan disagregasi pengeluaran tersebut.
Pada skala perekonomian daerah propinsi Sulawesi Selatan, setelah krisis mengalami pertumbuhan yang fluktuatif. pada tahun 2000-2001 mengalami tingkat pertumbuhan sebesar 5,5 persen, kemudian mengalami penurunan dengan pertumbuhan sebesar 4,1 persen pada tahun 2001-2002. Pada perkembangan berikutnya mengalami peningkatan dengan pertumbuhan sebesar 5,49 persen dan 5,30 persen pada tahun 2002-2003 dan 2003-2004 secara berturut-turut. Pada tahun 2004-2005 mengalami pertumbuhan sebesar 6,1 persen, sedangkan pada tahun berikutnya mengalami peningkatan pertumbuhan sebesar 6,72 persen, sementara itu pertumbuhan ekonomi pada tahun 2007-2008 sebesar 6,34 persen.
Selama periode 2000 hingga 2008 perekonomian Sulawesi Selatan relatif stabil dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 6,00 persen pertahunnya. Hal ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi berangsur-angsur telah mengalami perbaikan setelah  pasca krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997 dengan pertumbuhan sebesar -5,33 persen.
Selain itu, salah satu manfaat dari hasil perhitungan PDRB yaitu dapat digunakan untuk melihat gambaran struktur perekonomian suatu daerah atau wilayah. Struktur perekonomian propinsi Sulawesi Selatan yang masing-masing sektor mempunyai  peranan yang sangat signifikan. Hal ini  dapat dilihat dari kontribusi sektor pertanian terhadap pembentukan total PDRB tahun 2005  sebesar 11.337,55 atau 11,4 %, dan urutan yang kedua adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar  54 %, setelah itu disusul sektor industri pengolahan sebesar 52 %, sektor jasa-jasa sebesar 40 %, sedangkan sektor pertambangan dan penggalian hanya mencapai 51  % dan sektor lainnya sebesar 28  %. Dan yang memberikan kontribusi dan kinerja yang paling besar dalam struktur perekonomian Sulawesi Selatan adalah sektor pertanian.
Sementara itu perkembangan pengeluaran pemerintah juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tercatat dua jenis pengeluaran pada format lama APBD yaitu pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan. Kemudian pada tahun 2003,   format APBD tersebut berubah dengan format baru dimana pos pengeluaran pembangunan  menjadi belanja aparatur daerah yang meliputi belanja administrasi umum, belanja operasi dan pemeliharaan, dan belanja modal dan pengeluaran rutin menjadi belanja pelayanan publik yang meliputi belanja administrasi umum, belanja administrasi dan pemeliharaan serta  belanja modal.
Pada format lama APBD, pengeluaran rutin pemerintah pada tahun 1996 sebesar  101847 juta sedangkan pada tahun 1997 sebesar 121013 juta dengan perkembangan sebesar 18,8 persen. Sedangkan belanja pembangunan pada tahun 1996-1997 sebesar 217985.4 juta dan 279275.7juta dengan perkembangan 28,2 persen. Pada tahun 1998 realisasi pengeluaran rutin sebesar 117307 juta, dan pada tahun berikutnya sebesar 162453 juta. Sampai pada tahun 2002 realisasi pengeluaran rutin sebesar 324435 juta. Untuk realisasi pengeluaran pembangunan, pada tahun 1999 sebesar 250552.5 juta, sedangkan pada tahun 2000 relisasinya sebesar 404935.1 juta rupiah. Pada tahun 2001-2002 realisasi pengeluaran pembangunan sebesar 507035.1 juta, dan 668448.2 juta  rupiah.
Dari tahun ketahun perkembangan pengeluaran pemerintah khususnya pengeluaran rutin mengalami peningkatan dari tahun 1996 sampai pada tahun 2002. Begitupun juga pada pengeluaran pembangunan juga mengalami peningkatan pada tahun yang sama. Ini menunjukkan bahwa total realisasi pengeluaran pemerintah dari tahun 1996 hingga tahun 2002 telah memberikan sumbangsih yang besar untuk peningkatan pertumbuhan perekonomian Sulawesi Sealatan.
Untuk pengeluaran pemerintah dalam bentuk format baru yaitu belanja aparatur daerah dan belanja pelayanan publik (modal) dari tahun ketahun juga mengalami peningkatan. Pada tahun 2003 realisasi belanja pelayanan publik sebesar 849061.5 juta rupiah, sedangkan untuk belanja aparatur daerah sebesar 938635 juta rupiah. Sedangkan realisasi belanja publik di sulawesi selatan pada tahun 2005 sebesar   2337250.6 juta dan pada tahun 2006 sebesar Rp 2034772.8 juta rupiah. Dapat dilihat perbedaan pengeluaran pemerintah pada tahun 2005 dengan 2006 yaitu sebesar 302.477,8 juta dan terjadi penurunan  sebesar -12.9%. hal ini disebabkan oleh kurangnya anggaran untuk belanja modal sehingga terjadi penurunan terhadap perkembangan pengeluaran pemerintah. Untuk tahun 2007 hingga 2008 perkembangan pengeluaran pemerintah mulai membaik dan menunjukkan perkembangan yang positif. Bisa dilihat realisasi pengeluaran publik pada tahun 2007 sebesar Rp 3573753.0 juta dengan perkembangan sebesar 75.6 persen.
Hal ini juga menunjukkan pada tahun 2007-2008 mengalami kenaikan perkembangan sebesar 4.46 persen dibandingkan pada tahun sebelumnya. Adanya peningkatan pengeluaran pemerintah yang digunakan untuk pembangunan dan penyediaan barang publik, karena banyaknya barang publik yang tersedia dan infrastruktur yang memadai yang dapat menunjang peningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Berdasarkan pada uraian yang dikemukakan sebelumnya, maka penulis tertarik untuk mengkaji seberapa besar pengaruh pengeluaran konsumsi masyarakat dan pengeluaran pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi propinsi Sulawesi Selatan dengan judul penelitian sebagai berikut:
“PENGARUH KONSUMSI RUMAH TANGGA DAN PENGELUARAN PEMERINTAH TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI PROPINSI SULAWESI SELATAN PERIODE 1996-2008.”


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
Cara Seo Blogger